LAMPUNG UTARA , (HD) – Harapan besar keluarga siswa berprestasi di Lampung Utara untuk mendapatkan pendidikan terbaik di sekolah negeri harus berujung pahit. Rasa kecewa mendalam dirasakan oleh orang tua siswa yang baru saja menyabet medali emas dalam ajang bergengsi Mentari Science Competition (MSC) 2026 sekaligus menyandang gelar Juara Umum Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Fajar Warga Rejosari sekaligus orang tua siswa yang berprestasi Rumah nya yang hanya berjarak 200 meter dari sekolah MTsN 2 Lampung Utara menceritakan kronologi tersebut,
“Kejadian ini bermula saat sang anak mencoba mendaftarkan diri di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Lampung Utara melalui jalur prestasi. Berbekal sertifikat juara tingkat nasional dan rekam jejak akademik yang gemilang, pihak keluarga optimis sang anak akan diterima dengan mudah sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya di bidang sains.
Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Pihak sekolah menyatakan bahwa siswa tersebut tidak diterima melalui jalur prestasi tanpa memberikan alasan atau kejelasan yang transparan kepada orang tua.
“Kami sangat kecewa dan bingung. Anak kami sudah berjuang membawa nama baik Lampung Utara di kancah nasional, bahkan menjadi Juara Umum OSN dan meraih emas di MSC 2026. Tapi mengapa di daerah sendiri, di sekolah negeri, justru tidak mendapatkan tempat melalui jalur prestasi?” ujar orang tua siswa dengan nada getir menceritakan kronologis pada awak media, kamis (7/5/2026)
Hingga berita ini diturunkan, pihak MTs Negeri 2 Lampung Utara belum memberikan keterangan resmi mengenai indikator penilaian atau alasan spesifik di balik penolakan siswa berprestasi tersebut. Hal ini pun memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat mengenai transparansi sistem seleksi jalur prestasi di sekolah-sekolah unggulan daerah.
Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi semangat para pejuang literasi dan sains di Lampung Utara. Warga berharap otoritas pendidikan terkait, termasuk Kantor Wilayah Kementerian Agama setempat, dapat segera turun tangan untuk mengevaluasi proses seleksi agar tidak ada lagi talenta muda yang “terbuang” di tanah kelahirannya sendiri.
(Rizky A Sony)















