Kabar Dunia, (HD) – Pengamat Militer Dunia mengungkap boroknya di lini pertahanan militer Israel. Seorang pejabat senior menyatakan bahwa militer Israel (IDF) telah gagal secara signifikan dalam merespons ancaman drone peledak selama 18 bulan terakhir.
Kelalaian ini memaksa para tentara cadangan di garis depan untuk mengambil inisiatif sendiri demi bertahan hidup di tengah kecamuk perang di Lebanon.
Kegagalan Strategis Selama 18 Bulan. Meskipun ancaman drone telah diprediksi sejak lama, institusi militer Israel dinilai lamban dan tidak praktis dalam mengambil langkah pencegahan.
Pejabat tersebut mengungkapkan bahwa serangan drone jenis “First Person View” (FPV) telah menjadi mimpi buruk baru sejak awal tahun 2024 hingga tahun 2026 ini.
Hingga saat ini, pihak militer Israel belum mampu menemukan solusi “Radikal” atau teknologi yang benar- benar efektif untuk menetralisir ancaman udara ini. Akibatnya, unit-unit pasukan yang melakukan penetrasi ke wilayah Lebanon terus mengalami kerugian personel dan material yang sangat besar di lapangan.
Inovasi Primitif Terinspirasi Perang Ukraina, Menariknya, di tengah kegagalan sistem resmi dalam menyediakan payung perlindungan yang memadai, para tentara cadangan mulai menunjukkan kreativitas dalam keputusasaan. Mereka tidak lagi menunggu bantuan teknologi canggih dari pusat yang tak kunjung datang.
Berdasarkan laporan dilapangan, para prajurit cadangan ini mulai menciptakan langkah tandingan mandiri dengan metode yang terbilang sederhana dan “Primitif”. Beberapa poin penting terkait inovasi ini yang meliputi:
Beradaptasi dengan taktik perang yang terjadi di Ukraina, Para prajurit Israel mengadopsi teknik-teknik yang digunakan dalam konflik Ukraina, seperti penggunaan jaring-jaring kawat (cage armor) dan perangkat pengacak sinyal rakitan.
Mereka memodifikasi secara mandiri, Penggunaan alat-alat non-militer yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendeteksi atau menjatuhkan drone peledak sebelum menyentuh target.
Langkah ini diambil murni karena rasa tidak aman akibat lambatnya birokrasi militer dalam mendistribusikan sistem pertahanan drone yang efektif.
Dampak operasionalnya menjadi ketergantungan pada upaya mandiri yang menunjukkan adanya celah koordinasi antara komando pusat dan kebutuhan riil prajurit di lapangan. Para pengamat militer menilai bahwa jika militer Israel tidak segera meluncurkan solusi teknologi terintegrasi, kerugian di Lebanon akan terus membengkak seiring dengan semakin canggihnya taktik serangan drone lawan.
(Sony)














