LAMPUNG UTARA, (HD) – Nasib pilu menimpa Devi MS, warga Desa Tulang Bawang Baru, Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara. Pasien yang hendak melahirkan anak kembar ini harus kehilangan salah satu buah hatinya yang berjenis kelamin Laki-laki, Peristiwa tragis ini diduga kuat akibat lambatnya penanganan dan kelalaian dari pihak Rumah Sakit (RS) Ryacudu Kotabumi, Kamis (30/5/2026).
Kepada Media Harian Diksi, pihak keluarga korban membeberkan kronologi lengkap peristiwa memilukan tersebut. Pihak keluarga menduga ada ketidakpastian tindakan medis yang berujung pada hilangnya nyawa sang bayi.
Munari, perwakilan keluarga korban, menceritakan bahwa kejadian bermula pada tanggal 21 April 2026 sekitar pukul 18.30 WIB saat air ketuban Devi pecah. Keluarga langsung berkonsultasi dengan Tika selaku bidan desa dan diarahkan ke puskesmas terdekat sekitar pukul 19.30 WIB. Berdasarkan pemeriksaan awal di puskesmas, kondisi ibu dan kedua janin kembarnya dinyatakan sehat dan normal.
“Anak saya (pasien) langsung dipasang infus dan dicek sudah bukaan 3. Suami pasien kemudian diminta menandatangani berkas rujukan ke rumah sakit untuk tindakan operasi caesar, karena ini kelahiran anak pertama dan posisinya kembar,” ujar Munari dengan nada sedih.
Pihak keluarga sempat meminta agar Devi dirujuk ke RS Candimas Medikal Center (CMC). Namun Lipah selaku pihak bidan puskesmas melarang dengan alasan pasien menggunakan fasilitas BPJS, sehingga rujukan harus diarahkan ke RS Ryacudu Kotabumi.
Saat situasi darurat tersebut, Ibu Lipah yang juga bertindak sebagai bidan puskesmas menghubungi pihak RS Ryacudu. Pihak rumah sakit mengonfirmasi bahwa dokter spesialis, dr. Mareti Pandan Ayu, Sp.OG, sedang dalam posisi bersiap (standby). Ucapnya keluarga korban
Akan tetapi anehnya, bidan desa yang awalnya berniat mendampingi pasien hingga ke rumah sakit tiba-tiba berubah sikap setelah telepon tersebut dan melimpahkan tugas pendampingan kepada bidan lain.
Pasien tiba di RS Ryacudu Kotabumi sekitar pukul 20.30 WIB. Di sana, petugas medis memeriksa tensi darah serta detak jantung janin, yang hasilnya kembali dinyatakan normal dan sehat. Setelah memeriksa golongan darah, buku riwayat kontrol (buku pink), dan usia USG terakhir, petugas mencatat pembukaan telah mencapai skala 4 hingga 6. Pasien pun dipasangkan kateter serta oksigen untuk persiapan operasi caesar.
Namun, kekecewaan mendalam dimulai dari sini. Suami pasien mengungkapkan bahwa istrinya dibiarkan tanpa tindakan berarti selama kurang lebih tiga jam hingga pembukaan mencapai skala 8. Tragisnya, tidak ada tindakan darurat yang diambil hingga pembukaan lengkap (bukaan 10).
Bukannya dibawa ke ruang operasi, pihak RS Ryacudu justru memutuskan untuk melakukan persalinan secara normal. Keputusan ini sontak membuat keluarga kaget dan tidak menyangka.
“Jika memang dari awal bisa melahirkan secara normal, kenapa kami harus repot-repot dirujuk ke rumah sakit? Dari awal anak saya dirujuk karena kondisi kehamilan kembar pada kelahiran pertama tidak memungkinkan untuk persalinan normal,” tegas Munari
Tepat pukul 00.13 WIB dini hari, bayi pertama berjenis kelamin perempuan lahir dengan selamat dan sehat dengan berat 1,9 Kg. Namun petaka muncul saat petugas memeriksa detak jantung bayi kedua yang mulai melemah. Perawat sempat menyuntikkan obat ke dalam cairan infus, tetapi tidak ada reaksi. Kondisi tersebut membuat para perawat panik hingga menghubungi seseorang yang mereka panggil dengan sebutan “MAMI”.
Sembari menunggu bantuan datang, para perawat berunding karena posisi bayi kedua tidak kunjung turun. Setelah sosok yang dipanggil tiba, proses persalinan dipaksakan dengan cara ditarik secara manual oleh petugas, sementara perawat lain mendorong perut sang ibu.
Pada pukul 00.43 WIB—berselang 30 menit dari kakaknya—bayi kedua Devi yang berjenis kelamin laki-laki lahir dengan berat 2,4 Kg. Sayangnya, bayi tersebut lahir dalam kondisi membiru dan tidak menangis.
Suasana seketika berubah menjadi kepanikan massal perawat membawa bayi tersebut ke ruang penanganan intensif. Namun takdir berkata lain, setelah diperiksa, bayi malang tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Pihak keluarga kini meratapi kepergian buah hati mereka dan mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai kelalaian fatal serta lambatnya respons dari pihak RS Ryacudu Kotabumi dalam menangani persalinan berisiko tinggi.
Sementara setelah berita ini terbit belum ada tanggepan dari pihak rumah sakit Riyakudu kotabumi dan dinas terkait.
(Rizky A Sony)















